jump to navigation

If I Was a Palestinian Januari 28, 2009

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Jika aku seorang Palestina,

Aku akan angkat senjata!

Mati bukanlah sebuah ketakutan.

Adakah kehidupan menyisakan sesuatu untukku?

Adik dan kakakku telah mati bersimbah darah,

jasad mereka berserakkan.

Diantara puing ada wajah mereka.

Ayahku telah lama pergi dalam intifada.

Dia tidak pernah kembali.

Ibuku menyusul setelah serangan bom-bom yang membabi buta itu..

Jika aku seorang Palestina,

Aku akan mati di tanah kelahiran ini!

Walau negeriku, porak poranda sudah.

Masjid, gereja, sekolah, rumah sakit, tidak ada yang tersisa..

‘Kan kupertahankan dengan harga sebuah nyawa.

Aku akan mati disini, menemani keluargaku,

teman-teman- ku.

Bangsa-ku!

Jika aku seorang Palestina,

Akan ku ajari mereka arti sebuah tanah air!

Tanah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Berjuta kenangan!

Gaza, bukan sekedar bebatuan dan gumpalan debu. Ini rumahku!

Kemanakah aku hendak pergi? selain hidup dan mati disini!

MA’AF, KAMI BEDA !! Januari 27, 2009

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Maaf, kami bukan partai murahan seperti itu. Sebelum jadi partai pun kami
sudah aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan, apalagi untuk Palestina. Jauh
sebelum itu, para qiyadah kami sudah menggadai nyawa demi Palestina. Bagi
kami, Al-Quds bukan di seberang lautan, melainkan sejarak uluran tangan.
Memang hanya sedikit yang bisa kami lakukan, namun Allah Maha Teliti
perhitungan- Nya.

Maaf, seandainya yang kami lakukan tempo hari itu dianggap kampanye. Jika
kampanye adalah berkumpul, hura-hura, bersorak-sorai, sambil mengenakan
atribut partai, maka kami bukanlah partai yang menggantungkan diri pada hal
tersebut. Kami hanyalah sekelompok hamba Allah yang sederhana dan mudah
dikenali. Jangankan dengan atribut partai, tanpa atribut pun biasanya orang
mudah mengenali kami.

Kata Al-Qur’an, tidak ada shibghah yang lebih kental daripada shibghah
Allah. Sudah pernahkah Anda mendengar kata ini? Jika kaus putih Anda
berwarna merah setelah dicelup dalam cairan pewarna merah, itulah shibghah.
Iman memang letaknya di dalam hati, namun tak mungkin sepenuhnya
disembunyikan. Adakalanya hati ini bangkit ‘izzah-nya dan meluap-luap
sampai orang-orang bisa melihatnya dari sorot mata, gurat senyum, dan tangan
yang terkepal.

Maaf, kami memang tak pernah mementingkan atribut. Atribut apa pun yang
dipakai, orang bilang kami ini begitu mudah dikenali. Kami hanya berdoa,
itulah shibghah Allah; yang lebih kentara warnanya daripada warna-warni
lainnya.

Kami sadar bahwa kami hidup di tengah-tengah peradaban yang begitu
mementingkan atribut. Dengan atribut pun media massa masih tidak adil
terhadap umat Islam; seolah-olah umat ini tak pernah memeras keringat demi
negara. Masih ada saja yang bilang, “Buat apa mengurusi Palestina,
sementara negeri sendiri ditelantarkan? ” Sebagian diantara kami
berkesimpulan bahwa inilah yang terjadi jika atribut ditanggalkan. Orang
tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kami pun ikut menyumbang negeri
ini dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, kami pun tak
berani meremehkan atribut.

Maaf, pikiran kami tak pernah sampai ke tempat yang Anda-Anda bicarakan.
Beberapa hari sebelum aksi itu, SMS bertebaran. Salah satu SMS yang kami
terima berbunyi : “Kerahkan semua tenaga demi Palestina! Sumbangkan waktu,
tenaga, suara dan hartamu untuk jihad! Ikutilah aksi demonstrasi mendukung
Palestina, dari Bundaran HI sampai Kedubes Amerika pada 02/01/09! Kenakan
atribut partai, tunjukkan bahwa kader PKS bulat suaranya mendukung
saudara-saudara kita di Palestina!” Sebagian SMS yang lain nadanya lebih
formil, namun kurang lebih seperti itu. Tak sekalipun terdengar seruan
untuk mendulang suara dari melayangnya nyawa para syuhada di Palestina. Tak
ada secuil pun usaha untuk menarik simpati masyarakat kepada PKS. Semua
orang tahu siapa kami, dan semua orang tahu bagaimana sikap kami terhadap
Palestina. Kami tidak pernah merasa perlu melakukan kampanye dengan cara
begini.

Maaf, jika definisi “partai politik” dalam benak Anda berbeda dengan kami.
Hemat kami, parpol hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang dapat
digunakan, mulai dari memberantas korupsi, menyusun regulasi, mendukung
agenda pengentasan kemiskinan, sampai advokasi terhadap perjuangan rakyat
Palestina. Partai kami tidak banyak duit, sehingga kami tidak bisa
mendulang suara dengan cepat lewat jalur money politic. Kami tidak
menjanjikan uang atau nasi bungkus kepada kader-kader kami untuk berkumpul
di sekitar Bundaran HI. Mereka datang jauh-jauh dari Depok, Bogor , bahkan
Cimahi dan Majalengka, murni dengan biaya sendiri. Mereka rogoh kantung
sendiri untuk datang dan menunjukkan pada saudara-saudaranya di Palestina
bahwa di negeri ini masih banyak yang peduli dengan nasib mereka. Mereka
bahkan diinstruksikan untuk membawa bekal sendiri, meskipun alhamdulillaah
sebagian besar berhasil mengkoordinir konsumsi bersama.

Inilah ikatan yang lebih kuat daripada kewarganegaraan, ikatan perjanjian,
ataupun pertalian darah. Aqidah-lah yang membuat mereka mengesampingkan
semua agenda pada hari itu demi membela saudara-saudaranya yang mati dibunuh
dan hidup ditindas. Aqidah-lah yang membuat jarak sebentang samudera
bagaikan hanya sejarak uluran tangan saja. Mereka adalah saudara-saudara
kami. Orang tua mereka adalah orang tua kami, dan anak-anak mereka adalah
anak-anak kami. Betapa pedih hati ini memikirkan penderitaan mereka, dan
betapa menderita hati kami karena begitu sedikitnya bantuan yang bisa kami
berikan.

Maaf, barangkali pikiran kami memang demikian terlena dengan korban yang
terus berjatuhan di Palestina. Ketika diminta berkumpul, kami pun menjawab
panggilan itu. Menggunakan atribut partai adalah refleks, karena memang
kami adalah kader partai. Banyak juga kader yang tidak punya atribut partai
dan datang seadanya. Tapi tak mengapa, karena memang kami tidak
mementingkan atribut. Itu hanya refleks semata, sekedar untuk menunjukkan
identitas. Memang pikiran kami terfokus penuh kepada Palestina, sehingga
lupa pada aturan Pemilu. Pasalnya, partai kami ini memang tidak hanya sibuk
menjelang Pemilu. Bagi kami, Pemilu hanyalah satu dari sekian banyak hal
dalam agenda partai. Kampanye kami tidak mesti dengan bendera dan
pengerahan massa , melainkan yang utama adalah dengan pemikiran dan prestasi.
Semua orang tahu siapa kami.

Maaf, saat itu kami memang tak pernah kepikiran tentang Pemilu. Bukan
sekali ini saja kami mengerahkan sekian ribu kader untuk mendukung
Palestina. Jika 7% pemilih pada tahun 2004 yang lalu memilih PKS, maka kami
ingin semua orang tahu bahwa yang 7% itu semuanya mendukung Palestina.
Itulah manfaat atribut bagi kami, lainnya tidak. Palestina menyita banyak
sekali ruang pikiran kami, sehingga perebutan suara di Pemilu esok hari
terlupakan begitu saja. Maaf jika hal ini barangkali sulit dipercaya, namun
demikianlah adanya. Anda tahu siapa kami.

Maaf, kebanyakan diantara kami memang tak bisa memberikan rumah bertingkat,
mobil mewah, atau sekolah keluar negeri bagi anak-anak dan istri kami.
Namun kami berusaha sebisanya untuk menjaga kehangatan keluarga. Kami ikat
keluarga kami, bukan hanya dengan ikatan keluarga, melainkan juga dengan
aqidah. Ayah, istri, dan anak-anak, semuanya turut mendukung dakwah.
Karena mendukung Palestina adalah tuntutan aqidah, maka kami tak sempat lagi
memikirkan Pemilu dan segenap aturannya. Mungkin jika Anda melepaskan
sejenak kacamata politik konvensional yang selalu Anda kenakan itu, Anda
akan paham apa yang kami jelaskan ini.

Maafkan pula jika reaksi kami berbeda dengan persangkaan orang banyak. Anda
punya kekuatan hukum dan politik untuk menjebloskan para qiyadah kami ke
penjara, tapi Anda takkan punya kuasa untuk memadamkan api dakwah. Anda
semestinya belajar dari Mesir, Turki, atau Palestina; negeri-negeri di mana
dakwah tidak pernah (dan takkan) punah. Kami bukan partai picisan yang
hilang akal jika qiyadah kami dipenjara atau dibunuh sekalipun, dan qiyadah
kami bukanlah aktifis kemarin sore yang terkencing-kencing ketakutan diancam
dengan terali besi. Buya Hamka, Sayyid Quthb, Ahmad Yassin dan banyak
mujahid lain telah mengikuti jejak Nabi Yusuf as. yang tak berhenti
berkembang dari balik jeruji. Jika Allah menghendaki para ulama untuk masuk
penjara, itu artinya mereka dipanggil untuk menyendiri bersama-Nya. Insya
Allah ketika sudah lulus dari ‘madrasah penjara’, mereka telah berkembang
menjadi pribadi yang jauh lebih perkasa dan jauh lebih menyeramkan di mata
musuh-musuh Allah.

Maaf, kami memang beda. Tapi kami meminta maaf bukan karena berbeda,
melainkan karena belum berhasil membuat Anda mengerti. Semua orang tahu
siapa kami. Anda pun pasti tahu. Adakalanya kami berbuat kesalahan, lupa
dan lalai, namun hal itu tentunya tak sampai membuat orang lupa siapa kami
ini sebenarnya. Kami takkan berhenti memperjuangkan apa yang selama ini
kami perjuangkan, dan melawan apa yang selama ini kami lawan. Namun kami
janji, lain kali akan lebih waspada terhadap tipu daya.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

No Peace Without Justice ( FOR PALESTINIAN) Januari 27, 2009

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Tidak ada perdamaian tanpa keadilan
Perdamaian tanpa keadilan hanya sesuatu yang semu
Tidak ada perdamaian tanpa keadilan
Perdamaian hanya akan terjadi setelah hak-hak yang terjajah dikembalikan
Bung, negeri Indonesia dibangun bukan dengan perjanjian perdamaian ataupun dengan uang apalagi dengan sikap pengecut.
Negeri ini dibangun dengan semangat, keberanian, keringat, darah bahkan jiwa syuhada dan para pahlawan

Tidak ada kata “perdamaian” dengan para penjajah
Perdamaian hanya  berlaku dengan para penjajah setelah mereka meninggalkan tanah air yang dijajah
Kalian mungkin tidak mengerti arti keringat dan darah para pahlawan
Karena kalian hidup di alam kebebasan dan kemerdekaan
Kalian mungkin tidak mengerti apalah arti sejengkal tanah
Karena mungkin kalian tidak pernah dijarah
Kalian mungkin akan menganggap bom syahid atau yang biasa kalian sebut dengan bom bunuh diri itu suatu keputusasaan
Tapi apakah kalian tahu, apa yang dilakukan para pejuang palestina itu pernah dilakukan pejuang Indonesia!
Tahukan kalian, apa yang mereka lakukan itu pernah dilakukan Muhammad Thoha seorang pejuang yang kemudian menjadikan bandung lautan api dan membuat nyiut nyali penjajah belanda!

Tidak ada perdamaian dengan penjajahan!
Yang ada hanyalah yang haq (Benar) dan yang batil (salah)
Tinggal kita yang memilih menjadi pendukung yang haq atau pendukung yang batil
Mereka yang buta mata hatinya saja yang membenarkan penjajahan (kebatilan)

Berjuanglah terus saudaraku bangsa Palestina!
Jangan pernah mau mengikuti perjanjian perdamaian yang mereka ajukan, karena begitulah selalu penjajah bertingkah laku.
Belanda juga dulu melakukannya terhadap diponegoro, sultan hasanuddin, dan yang lainnya, dan akhirnya selalu sama, mereka menipu pahlawan kami.
Roket Qassam dan batu-batu yang kalian lemparkan itu, ibarat bambu runcing yang kami gunakan dahulu untuk mengusir penjajah belanda.

Saudaraku wahai bangsa Palestina! kalian telah ditakdirkan menjadi bangsa para pejuang bukan bangsa para pengecut.
Maka teruslah berjuang untuk kemerdekaan kalian, walaupun kalian harus mencapainya lebih lama dari kami dan berkorban lebih banyak dari kami.
Wahai para ibu dan wanita palestina! teruslah lahirkan dari rahim kalian para pejuang yang siap menghancurkan para penjajah,  karena rahim  kalian itulah yang membuat  mereka ciut dan dipenuhi rasa takut.

Doa kami untukmu wahai para pejuang, Kokohkan semangat dan kesabaran kalian serta bertwakkallah padaNYA

Dan yang terakhir ingin kukatakan,
LAKNAT ALLAH untuk kalian semuanya, wahai bangsa Israel.

Menjadi Seperti Apa Yang Anda Inginkan Desember 30, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan. Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya. Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora. Lalu pada usia Sembilan tahun, gadis kecil tersebut memutuskan untuk melepaskan penyangga kakinya dan mulai melangkahkan kakinya yang kata dokter tidak akan bisa normal kembali. Dalam empat tahun dia mulai dapat berjalan secara normal, ini sebuah keajaiban bagi dunia medis. Dikemudian hari, gadis itu memiliki sebuah impian untuk menjadi pelari wanita terhebat di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah dengan kaki yang tidak sempurna seperti itu? Di usia yang ke tiga belas tahun, dia mulai mengikuti lomba lari. Dia menjadi yang terakhir mencapai finish. Dia selalu mengikuti setiap perlombaan lari di SMA dan dalam setiap perlombaan dia selalu menjadi yang terakhir mencapai finish. Semua orang memintanya untuk menyerah saja! Sampai suatu hari, dia tidak menjadi yang paling akhir mencapai finish dan akhirnya tibalah hari dimana dia memenangkan lomba lari. Sejak sat itu Wilma Rudolph selalu memenangkan perlombaan lari yang dia ikuti. Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika. Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas. Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya. Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahului pelari sekeleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade! Refleksi Separah apapun keadaan anda saat ini bukanlah suatu alasan untuk tidak dapat meraih sukses. Selama anda memiliki keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora, harapan untuk meraih sukses itu selalu ada. Anda sendirilah yang menentukan nasib anda dan menjadi seperti apa yang anda inginkan. Banyak contoh individu – individu sukses yang awalnya mulai berusaha dari keadaan yang kurang beruntung. Thomas Alva Edison yang hanya bersekolah 3 bulan saja bisa memberikan manfaat bagi milyaran umat manusia dengan hasil hasil karyanya bahkan setelah kematiannya pun kita masih menikmati hasil karyanya. Stephen Hawking yang menderita sklerosis lateral amiotrofik atau lebih dikenal dengan penyakit Lou Gehrig dan divonis dokter tak akan bertahan hidup lebih dari 2 tahun saja tidak kehilangan semangat untuk berkarya. Ia berkata,”Mendadak saya menyadari bahwa banyak hal berharga yang bisa saya lakukan seandainya kematian ini bisa ditunda. Seandainya saya harus mati, mungkin masih ada gunanya bagi saya untuk berbuat kebaikan bagi umat manusia”. Ia menikah dengan Jane Wilde dan memiliki anak. Selain itu dia juga menjadi Guru Besar di Cambridge University, menjadi anggota sebuah klub ilmuwan bergengsi The Royal Society. Hawking juga menghasilkan karya spektakuler yang berjudul A Brief Story of Time dan teori Big Bang nya menjadi pembicaraan di kalangan ilmuwan. Semangat hidup dan keinginannya untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi umat manusia selagi masih hidup justru membuatnya mampu bertahan hidup. Dia mendapat julukan sebagai “Manusia Jenius” setelah Albert Einstein. Saudara, mulailah menjadikan hidup anda berarti bagi orang lain. Anda sendiri yang bisa memberikan arti bagi hidup anda dan membuat hidup anda menjadi berarti bagi orang lain. Hal yang paling menyedihkan bagi seorang manusia adalah ketika dirinya tidak dibutuhkan oleh siapa siapa. Mari kita mulai dari sekarang untuk menjadikan hidup kita berarti bagi orang banyak. Wujudkan keinginan anda dan jadikan hidup anda berarti! Salam Sukses dan Berkelimpahan Selalu

Menunda Dunia Untuk Allah Desember 24, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Ust. Yusuf Mansyur

Bagi saya, persoalan shalat adalah persoalan tauhid. Sebab tauhid kan sederhananya: Mengenal Allah. Lalu bagaimana kualitas shalat kita, sebagaimana itulah kita bertauhid kepadanya. Memang ada urusan lain di urusan shalat, tapi semua bermula dari sini… Dari shalat…

Perrmohonan maaf kepada para peserta sebab kemaren sempat kosong tidak ada materi. Alhamdulillah pagi ini kita ketemu lagi. Insya Allah pembahasannya masih seputar shalat. Sebab buat saya, urusan shalat itulah urusan tauhid.
Kemaren pagi jam 11 saya nemanin istri saya check-up kami punya baby di rumah sakit. Diberitahu bahwa dokternya hanya sampe jam 13 saja. Alhamdulillah, urusan shalat nomor satu. Saya mengincar pom bensin di menjelang Mal Puri. Di sana ada tempat shalat yang bersih. Saya belajar seperti ini. Dan saya menyuarakan agar sebanyak-banyaknya orang juga begini. Betul-betul waspada di urusan shalat. Dan alhamdulillah malah nyampe jam 12.40-an. Masih belum terlambat.

Nah, kadang suka timbul pikiran begini, shalat di sana saja dah. Takutnya telat. Ntar dokternya malah pergi lagi. Akhirnya malah kadang terlambat semua mua. Datangnya juga terlambat. Dan sering juga akhirnya shalat di akhir waktu. Saya menikmati benar mendahulukan Allah ini. Saya yakin, yang punya jalan adalah Allah. Sehingga kalau mendahulukan Allah, niscaya jalanan akan dibuat lenggang oleh Allah Pemilik Jalan.
Begitulah Saudara-saudaraku, peserta KuliahOnline. Percuma juga kita bicara Allah bila kemudian urusan shalat kita berantakan. Persoalan shalat sebenernya dijadikan Kuliah Dasar tersendiri. Namun, karena bagi saya ini persoalan yang mendasar, maka ia dijadikan sebagai bahagian dari Kuliah Tauhid.

Kalau dilihat perilaku manusia-manusia di Indonesia ini, memang bertuhan namun sebenernya masih perlu dipertanyakan lagi ketuhanannya. Sebab seperti ga kenal sama Allah. Contoh, di dalam pesta perkawinan, wuh, soal shalat, kayak ga ketemu shalat tepat waktu di sini, kecuali segelintir saja. Di mall, di perkantoran, di gedung-gedung, sedikit sekali yang betul-betul memerhatikan shalat sebagai cerminan bertauhid yang benar.
Ok, sebagai kelanjutan bicara-bicara ini, mari kita lanjutkan pembahasan seputar shalat. Selamat menikmati esai-esai pendek. Saya pilih juga cara penyajian dengan esai-esai pendek agar peserta mudah mempelajari dan memahami. Juga mudah mendistribusikan lagi kepada yang lain sebagai perpanjangan dakwah saya dan kawan-kawan. Amin.
Robbij’alnii muqiimash sholaah wa min dzurriyyatii, ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak keturunanku sebagai orang-orang yang menegakkan shalat…

Ada hadiah dari Allah
buat siapa saja yang mementingkan diri-Nya
Si A, membawa surat interview.
Dia ini orang yang terbiasa tepat waktu.
Ia gelisah. Sebab di surat interview itu, ia dipanggil jam 11.00. Jam yang rawan bagi dia.
Rawan apaan?

Rawan untuk tidak bisa mempersiapkan diri shalat tepat waktu.
Subhaanallaah! Padahal jam 11 kan masih jauh? Masih 1 jam menuju waktu shalat.
Iya. Itu kalo dia prediksi wawancara bisa berlangsung tepat waktu. Bagaimana kalau pewawancara telat. Atau ia datang di urutan wawancara nomor ke sekian? Atau wawancara akan masih berlangsung sedang waktu shalat sudah menjelang. Lihat ya, baru “sudah menjelang”, bukan sudah datang.
Pikiran ini betul-betul mengganggu si A ini.
Tapi karena dia butuh pekerjaan, kemudian dia tetap memutuskan untuk datang.
Jam 11 kurang dia sudah sampai. Dia catatkan namanya untuk interview. Ternyata hanya dia seorang. Aman nih.
Tapi apa yang terjadi? Ternyata si penginterview dipanggil oleh direksi. Sampe jam 11.30-an ga kunjung ada kejelasan apakah wawancara bisa dilaksanakan atau tidak, atau di jam berapa wawancara bisa dilaksanakan.
Di mata si A ini, pertanyaan itu jelas ia jawab, atau bahasa lainnya, jawabannya jelas: Batal.
Betul: Batal.
Dia memilih tidak wawancara bila wawancara itu dilakukan di jam 12 lalu mengganggu jadual shalatnya. Masya Allah.
“Mbak, saya izin dulu ya. Nanti saya balik lagi. Saya titip tas di sini,” katanya kepada resepsionis.
“Bawa aja tas nya. Emangnya mau kemana? Bapak sebentar lagi barangkali datang.”
“Mau shalat dulu.”
“Oh… Silahkan… Nanti saya beritahu Bapak.”
Alhamdulillah, pikir si A. Kirain akan dimarahin. Ini malah dipersilahkan dan akan dibantu untuk memberitahukan ke pewawancara. Alhamdulillah.
***

Sesampenya si A di ruang mushalla, belum ada orang. Sebab baru jam 12.50. saat itu, zuhur jam 12.08.
Kira-kira jam 12-an lewat, tapi belum datang saatnya azan, datang seorang bapak. Bersih wajahnya. Berseri. Bapak ini sudah datang dalam keadaan berwudhu. Ditemani oleh dua orang lagi di sebelahnya. Juga dalam keadaan sudah berwudhu nampaknya. Sebab si A tidak melihat ada tanda-tanda bekas air wudhu baru.
“Mas, bukan pegawai sini ya?” tanya salah satu dari yang tiga orang tersebut.
“Iya Pak”
“Eh, kemana yang azan? Koq belum azan nih?” cetus lagi yang satu, sambil melihat jam.
“Saya saja Pak yang azan,” kata si A.
Dalam keadaan rapih baju dan celananya, dan dalam keadaan wangi, si A, azan. Ada rasa kebanggaan di hatinya, bahwa dia bisa mengalahkan interview untuk dapat azan dan shalat zuhur berjamaah.
Berdirilah yang tiga orang tersebut, sambil menunggu azan selesai. Seolah-olah mereka mendampingi si A ber-azan.
Selepas azan, si A tidak sempat lagi bicara-bicara dengan tiga orang tersebut. Sebab mushalla sudah keburu ramai.
Hanya, selepas shalat ba’diyah, pundaknya ditepuk oleh salah satu dari yang tiga. “Mas yang akan diwawancara oleh saya ya?”
Kagetlah si A. Rupanya ia bersama-sama sang pewawancara. Satu shaf.
“Yang ngimamin shalat itu, Dirut kita,” katanya datar. “Kita tunggu beliau selesai shalat sunnah.”
Singkat cerita, malah si A itu diajak makan siang bersama. Dua dari yang tiga, adalah direksi. Sedang yang mewawancara pun nampaknya memiliki jabatan yang cukup tinggi di kantor tersebut.
Sungguh beruntung si A. Ia jaga shalatnya, malah Allah dudukkan dia dalam posisi yang sangat mulia.
Bagaimana lalu dengan awawancaranya? Ya sudah tidak perlu diwawancara kali. Pertemuan di mushalla, dan azannya si A, sudah menyelesaikan wawancara. Alhamdulillah, subhaanallaah.
Para Peserta Kuliah Online yang budiman, kalau kita hidup dalam aturan Allah, maka Allah akan mengaturkan hal-hal yang terbaik buat kita. Allah Maha Mengendalikan dunia ini, dan DIA Maha Mengetahui apa yang akan terjadi. Pintu rizki pun di tangan-Nya. Bukan di tangan siapa-siapa.
***

Memberi Jam yang Terbaik
Allah begitu baik sama kita.
Sedangkan kita…?
Judul di atas bukan bermaksud memberi hadiah jam tangan. Bukan. Maksudnya, memberikan waktu terbaik kita buat Allah. Tidak mudah loh menerapkan hal ini. Makanya, mintalah bantuan, bimbingan, dan pertolongan Allah, agar bisa memberikan kepada Allah, waktu terbaik untuk-Nya.
Jadilah orang yang berbahagia, di mana ketika orang sedang sibuk-sibuknya, kita bisa memotong menghadiahkan waktu yang berharga yang kita miliki, buat Allah. Bukankah sejatinya semua punya Allah?
Berikut ini kira-kira waktu terbaik kita:

1. Waktu istirahat kita di pertengahan malam, di dua pertiga malam, dan atau di sepertiga malam. Untuk bangun malam. Untuk ruku’ dan sujud, memuji Allah dan memohon pertolongan- Nya. Memohon bimbingan-Nya agar kita tidak kelelahan dalam menjalani hidup ini. Agar anak-anak menjadi anak-anak yang saleh salehah. Agar orang-orang tua kita panjang umur, sehat dan diampuni Allah. Dan masih banyak lagi lah. Wuah, ini berat. Tidak sedikit yang tidak mampu mengorbankan waktu tidurnya. Karena lelahnya mencari dunia, kita lalu tidak bisa bangun malam. Atau karena banyaknya dunia yang di tangan kita, kita lalu berat untuk bangun malam. Suasana pun barangkali sedang nyaman, tidak sedang bermasalah.
2. Waktu pagi. Ketika manusia langsung ngebut dengan pekerjaannya, dengan usahanya, dengan kesibukannya, kita korbankan dulu barang sedikit untuk menegakkan shalat dhuha. Dan sebelumnya, ketika manusia langsung berburu dunia, kita malah tahan dulu barang sebentar untuk menegakkan shalat shubuh. Subhaanallaah. Kalau bisa shalat shubuhnya di masjid. Masya Allah. Kita ajak anak-anak dan istri.
3. Jam zuhur. Jam sibuk-sibuknya. Traffic lagi tinggi-tingginya. Ketika pelanggan lagi banyak-banyaknya, kita ridho meninggalkannya demi Yang Memiliki diri kita dengan seluruh pemberian-Nya. Ga usah khawatir degan berkurangnya perniagaan. Lihat saja Mekkah dan madinah. Ketika jam shalat, mereka tutup. Akhirnya apa? Allah malah memberikan international buyer, pembeli internasional. Bukan sekedar local buyer.
4. Jam ashar. Jam ngantuk. Kita segarkan diri kita, dengan air wudhu. Kita segarkan batin kita, jiwa kita, raga kita, dengan shalat ashar. Sungguh banyak kemuliaan bacaan-bacaan habis ashar. Insya Allah akan saya banyak tulis di website.

Jam macet. Jam pulang. Banyak manusia yang terjebak di kemacetan, karena berburu pulang cepat. Akhirnya tetap saja kemaleman karena memang macet. Kalau memang macet-macet juga, kenapa tidak kita tunggu saja sampe maghrib usai. Atau syukur-syukur kita sekalian selesaikan isya, baru kita pulang. Kalau tetap khawatir, misalkan pulang jam 5, maka jam 18 mampir ke masjid. Jalan lagi usai maghrib. Lalu, mampir lagi jelang isya. Dan jalan lagi setelah shalat isya. Repot memang. Tapi insya Allah yang begini ini yang kelak akan Allah istimewakan. Manusia mau lelah, mau cape. Tapi kali ini cape dan lelahnya, buat Allah. Bukan seperti selama ini yang untuk dunianya, untuk perutnya, untuk keseombongannya, untuk hawa nafsunya. Subhaanallaah.
***
Habis, Kita Digaji Beliau Sih…
Kita tidak pernah tahu dengan sungguh-sungguh
darimana rizki kita berasal. Barangkali, karena
itulah kita jarang mengistimewakan Allah.
“Pak Helmy, ke ruang saya ya…”, perintah bos besar, datar. Tanpa ada nada suruh cepat-cepat, dan tidak ada juga perintah untuk bersegera. Perintahnya bener-bener datar.
Bos besar ngangkat telpon, dan menekan shortcut number yang tersambung ke ruangan Pak Helmy, dan lalu bicara begitu: “Pak Helmy, ke ruang saya ya…”.
Itupun dilakukan si bos besar ini tanpa menunggu jawaban dari Pak Helmy, apakah bisa atau tidak. Dan bos besar pun tidak tahu juga barangkali siapa yang ngangkat telpon di ruangan Pak Helmy tersebut. Apakah benar Pak Helmy, atau bukan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita jadi Pak Helmy, maka kita wajibkan diri kita untuk menyegerakan diri ke ruangan bos besar. Kita lalu merapihkan diri, dan bahkan seperti sudah menebak apa kemauan bos besar, kita ke ruangannya membawa data-data yang barangkali diperlukan, supaya bos besar senang.
Kalau kita jadi Pak Helmy, umpama ternyata sekretaris ruangan Pak Helmy yang mengangkat telpon itu, lalu kemudian si sekretaris ruangan itu lupa menyampaikan bahwa bos besar memanggil, maka marahlah Pak Helmy, dan bersegeralah dia meminta maaf kepada bos besar seraya menyampaikan bahwa dia salah.
Kalau kita ditegor orang, “Duuuh, segitunya kalo dipanggil bos…”. Maka kita akan menjawab, “Ya wajarlah. Sebab dia kan bos nya saya. Dia yang menggaji saya. Saya bekerja di perusahaan ini sebab kebaikan dia”.
Luar biasa. Begitu hebatnya “tauhid” kita kepada bos besar tersebut.
Lalu, bagaimana dengan panggilan Allah? Bagaimana keadaan hati kita? Bagaimana keadaan diri kita? Bagaimana penampilan kita? Bagaimana sikap kita? Silahkan jawab sendiri. Masing-masing. Dengan jawaban yang paling jujur dari sikap dan perilaku kita selama ini.
Semoga Allah menyayangi kita semua.
***

Ani SBY
Adalah wajar menghormati dan menghargai seorang manusia, karena kedudukannya, karena kemuliaannya, karena kekayaannya. Tapi menjadi tidak wajar, bila kemudian Pemilik Kesejatian Kedudukan, Kemuliaan, Kekayaan, tidak kita hormati tidak kita hargai.
Ini bukan tulisan esai yang pro partai demokrat. Ini juga bukan cerita tentang seseorang yang membela SBY. Ini hanya cerita seorang anak bangsa yang bangga sama ibu negaranya, istri presidennya yang berkuasa saat ini (SBY adalah presiden Indonesia saat tulisan ini dibuat, Web Admin). Itu saja.
Ok, saya memprologkan hal ini, sebab saya memang senang dengan Bu Ani SBY. Istri dari SBY. Senang. Sederhana. Kelihatan tidak neko-neko. Tidak kedengeran bisnis yang macam-macam. Nampaknya sosok ibu dan istri yang baik. Dan ini bukan tulisan yang menyatakan ketidaksenangan dengan beliau. Justru lantaran senangnya. Tulisan ini menjadi ada, karena Allah menjadikan ini sebagai pelajaran buat saya.
Pada satu saat, ada pameran buku-buku di Dunia Islam yang pembukaannya saya diundang utuk hadir. Dan katanya, dihadiri oleh Bu Ani SBY sebagai istri Presiden yang bakal membuka pameran secara resmi.
“Pengawalannya ketat Pak!” kata salah satu panitia.
Yang lainnya menimpali, “Iya, seluruh penyewa ruangan pameran, ga boleh lagi masukin barang sejak jam 11 malam tadi”.
“Betul-betul diawasi”, kata yang satunya lagi.
Saya mendengar dialog ini. Saya yang udah mau nerobos masuk, jadi ga enak. Bukan sombong, insya Allah wajah saya diberi keleluasan untuk masuk, he he he. Ada pengecualian. Coba saja saya dilarang masuk, ya saya pulang. Kalo saya pulang, maka jadual baca doa, jadi berantakan, he he he. Tapi saya tahan langkah saya ini. Biarlah sistem yang bekerja. Toh kalau panitia butuh, dia akan nyari saya. Namun, pelajaran tauhid, bergetar di hati saya. Saya bergumam di dalam hati, subhaanallaah. Untuk kedatangan pembesar negeri ini, dan ini baru istrinya, manusia sudah dibuat repot, he he he. Kenapa ya kalo yang datang Allah, kita tidak repot? Nah!
Coba aja lihat, barang-barang boleh masuk ke ruang pameran, jam 11 semalam sebelumnya. Dan di pagi hari, engga boleh lagi ada yang keluar masuk 2 jam sebelumnya. Sebab apa? Ya sebab tadi. Bu Presiden bakalan masuk ruangan. Clear Area.
Bagaimana dengan Allah? Bagaimana dengan kedatangan-Nya di waktu shalat?
Allah, hanya minta waktu sama kita untuk tepat waktu. Kita tidak disuruh bersiap-siap yang berlebihan hingga kemudian kita malah melupakan dunia kita. Kita hanya disuruh pada saatnya menghadap, tinggalkanlah perniagaan, tinggalkanlah jual beli. Itu kalau mau beruntung. Tapi lihat? Manusia lebih menghargai manusia yang lebih terhormat. Tidak mau melihat Yang Maha Terhormat. Manusia lebih bisa menghargai manusia lain yang lebih kaya. Tidak menghargai Yang Maha Kaya, Yang Teramat Kaya. Manusia, lebih menghargai terhadap mereka yang punya kekuasaan dan pengaruh lebih. Tapi terhadap Allah, Yang Maha Kuasa dan Teramat Kuasa, ya begitu dah bentuk penghargaan dan penghormatan kita. Kita tau sendiri bagaimana bentuknya.
Maka diri ini berpesan kepada diri ini sendiri, seyogyanya berkenalanlah dengan Allah. Lewat hati. Supaya bisa mementingkan Allah, menghargai Allah, menghormati Allah, lebih dari siapapun di dunia ini.
***
Gelisah
Bilakah kegelisahan menghilang dari kalbu kita manakalah kita mengabaikan waktu shalat?
Bila datang sebentar lagi waktu shalat, dan kita tahu siapa yang bakal turun ke langit dunia (yaitu Allah), sedang kita masih di jalan tol misalnya… bersyukurlah bila kemudian dikarunia hati yang gelisah. Gelisah apa? Gelisah tidak bisa shalat tepat waktu.
Di mana kita ketika waktu shalat tiba? Pertanyaan ini kita tanyakan kepada diri kita. Kalo kita menjawab, alhamdulillah kami sudah di dalam masjid # alhamdulillah kami sudah dalam keadaan berwudhu dan di atas sajadah # alhamdulillah kami sudah berjalan menuju masjid # maka bersyukurlah. Jangan sampe kemudian kita merasa “aman-aman” saja. Bahkan tidak gelisah sama sekali ketika jam shalat sudah mau habis.
Ya, banyak manusia yang gelisah dengan pendapatannya hari itu. Banyak manusia yang gelisah dengan proyek-proyeknya hari itu. Banyak manusia yang resah dengan masalahnya yang belum juga selesai hingga di hari itu. Banyak orang tua yang gelisah dengan keadaan anaknya yang sudah makan atau belum kalau anaknya pulang terlambat, dan gelisah kalau tidak ada tanda-tanda anaknya bakal datang. Tapi siapa yang mampu gelisah sebab khawatir shalat tidak tepat waktu?
Sebuah keutamaan adanya bila kemudian kita datang ke tempat shalat, menyiapkan diri untuk shalat, tapi waktunya azan belum lagi datang. Artinya, kitalah yang datang duluan. Adem rasanya.
Kalau kita tiada gelisah dengan kondisi buruknya shalat kita, maka Allah akan berikan kegelisahan itu di hati kita, sampai kita tidak tahu jawabannya apaan.
Kan banyak tuh orang-orang yang gelisah tapi ga tahu kenapa dia bisa gelisah? Maka coba aja jajal koreksi dari sisi ini.
***

Berani Berubah Desember 19, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

“Kita sering berpikir bahwa kita harus membuat perubahan besar. Mari
kita coba buat perubahan yang kecil-kecil dahulu. Jika dilakukan
secara strategis, perubahan yang kecil itu akan membawa pengaruh
yang besar.”
– Marian Wright Edelman, aktivis HAM anak-anak

TAK ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri, begitu orang
bijak bilang. Kalau orang bijak berkata, sulit untuk dibantah. Ada
bukti yang bikin jantung tercetak. Ini beritanya: pada awal Februari
lalu, maskapai penerbangan Japan Air Lines atau yang lebih dikenal
dengan nama JAL mengumumkan kebahagiaannya. Mereka, sejak kuartal
ketiga di tahun 2007, membukukan keuntungan hingga 13,1 miliar yen.

Bukan hanya jumlah keuntungan yang luar bisa besarnya itu yang bikin
banyak orang terkejut, namun berita tentang perusahaan ini membaik
pun sebenarnya sudah bisa bikin kepala orang bergeleng takjub. Ada
sebabnya tentu saja. Perusahaan penerbangan ini dalam beberapa tahun
terakhir, dikenal sebagai maskapai dari negara maju yang memiliki
lalu lintas penerbangan sibuk, lha kok malah merugi.

Ketika krisis harga minyak dunia terjadi, JAL selama dua tahun
terakhir, dari 2005 hingga 2006 mengalami kerugian sekitar 16,3
miliar yen atau setara dengan 152,6 juta US$. Kerugian utamanya
disebabkan armada yang dimiliki JAL, yaitu sebanyak 271 pesawat,
tergolong rakus menenggak bahan bakar. Nah, naiknya harga minyak
dunia yang semakin membubung ternyata tidak diimbangi dengan naiknya
pendapatan perusahaan. Mau tak mau membuat mereka limbung. Fenomena
yang dialami JAL, jelas saja mendapat sorotan tajam. Mengingat
sebagai negara maju dengan penerbangan yang sibuk, kok bisa-bisanya
merugi. Satoru Aoyama, analisis dari Fitch Ratings, seperti dikutip
The Wall Street Journal awal Februari 2007 lalu, menyebut JAL,
sebagai Zombie Company. Atau bahasa melayunya, hidup segan mati pun
tak mau.

Masih mau terpuruk? Pastilah ogah. Pihak manajemen pun buru-buru
melakukan aksi perbaikan. CEO JAL, Haruka Nishimatsu tak tinggal
diam. Nishimatsu melakukan perubahan besar-besaran di segala bidang.
Tahun 2007 di bulan Februari, Nishimatsu melakukan PHK terhadap
4.300 karyawannya. Tak hanya itu, Nishimatsu mengumumkan memangkas
gaji 40 top eksekutifnya hingga 60%. Tak terkecuali dirinya.
Pemotongan gaji para top eksekutifnya itu tak ayal dapat menghemat
hingga 9,6 miliar yen. Langkah lain pun dilakukan untuk eksternal
organisasi. Di bidang pelayanan misalnya, JAL meningkatkan
pelayanannya. Di antaranya, dengan memperkaya menu makanan dan
minuman. Jok kursi untuk penumpang pun dibuat mewah, yaitu
menggantinya dengan kulit hewan. Namun, untuk semua pelayanan yang
serba wah ini, penumpang tak harus merogoh kocek lebih dalam. Harga
tiket tetap tidak dinaikkan. Hasilnya pun cespleng. Ujung tahun
lalu, JAL pun mencatat keuntungan hingga 13 miliar yen.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah perubahan. Ibarat
sebuah bayangan, dimana tiap kali kita melangkah, ia senantiasa
mengiringi langkah kita. Semua yang harus dilakukan sebenarnya tidak
saja saat guncang, tetapi juga dalam keadaaan yang menyenangkan. Ini
pengalaman lain yang bisa dijadikan contoh.

Kenal dengan nama Sir Alex Ferguson? Di tahun 2000, setahun setelah
mendapatkan treble alias tiga gelar juara sekaligus dalam satu
musim, klub Manchester United kembali berjaya di liga Inggris dengan
menjadi juara. Namun, tak lama setelah berjaya, Sir Alex Ferguson,
sang pelatih yang menukangi klub tersebut punya penilaian
tersendiri. Ferguson mencoba mematahkan mitos, “don’t change the
winning team”, atau jangan rombak tim juara. Ia justru merombak tim
yang ada. Ada pertimbangan yang kadang tidak selalu bisa dipahami
orang awam. Ferguson menganggap tim yang itu-itu saja dapat
memberikan rasa kebosanan. Selain itu, ada beberapa pemain yang
memang sudah lanjut usia. Ibarat mesin, barang yang sudah tua akan
mengganggu kerja mesin secara keseluruhan. Dengan berat hati,
Ferguson pun melepas beberapa pemainnya. Pemain yang benar-benar
bagus dipertahankan. Pemain yang dinilai kurang memuaskan dijual
atau dipinjamkan ke klub lain. Pemain baru didatangkan untuk mengisi
posisi yang kosong. Tim telah dirombak. Lantas apa hasilnya setelah
dirombak?

Banyak orang bilang Ferguson melakukan langkah keliru. Sebabnya,
musim-musim berikutnya mereka malah kedodoran. Tapi Ferguson tak mau
diam saja. Sambil berjalan, dia terus melakukan perubahan dengan
pola yang sama. Hasilnya memang tidak serta merta memberikan hasil
gemilang. Beberapa kali, klub ini kehilangan gelar selama tiga tahun
berturut-turut. Sampai akhirnya musim lalu, mereka kembali berjaya,
dengan personel atau formasi pemain yang benar-benar berubah.

Dua kisah di atas tampaknya menjadi relevan saat kita menghadapi
berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Entah di lingkungan
kerja atau lingkungan di rumah. Ada beberapa hal yang mau tidak mau
membuat kinerja di dalamnya terganggu. Banyak faktor memang, tetapi
perubahan tetap harus dilakukan. Ambil yang baik, buang yang buruk.
Tidak semudah yang dikira. Organisasi di wilayah rukun tetangga
adalah hal yang pelik. Seorang warga yang tidak pernah mau ikut
kerja bakti di hari minggu kerap menimbulkan disharmoni di antara
warga. Lantas apa yang dapat dilakukan? Mengusirnya dari lingkungan
ia tinggal? Tentu tidak. Satu hal yang perlu dilakukan adalah
mengajaknya bicara dengan baik-baik dan dilakukan dengan gaya dari
hati ke hati.

Dengan cara seperti itu, semua persoalan akan mengemuka dan dengan
demikian akan menjadi mudah dalam mencari solusinya. Sebenarnya hal
itu pula yang dilakukan Haruka Nishimatsu dan Sir Alex Ferguson pada
saat mereka mulai melakukan perombakan dalam organisasinya. Tetapi
jangan lupa, dalam melakukan perubahan, sebelum Anda mendapatkan
yang terbaik, tentu saja Anda harus memberikan yang terbaik dahulu.

Ditilang Polisi, dan Polisi itu temenku Desember 18, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.
Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat.
Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah
biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang.
Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa
melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah
menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku
tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil
terus melaju.

Prit!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam
hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu
asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah..”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan
menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku
tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono
memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu
sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa
berkata-kata Bobi kembali ke posnya.. Jono mengambil surat tilang yang
diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata
SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku.
Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan
membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak
perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut
menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan.
Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.
Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha
dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat
kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa
sulitnya. Begitu juga kali ini.. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan
kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun,
Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan
pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap
kesalahannya dimaafkan… ….

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain.
Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat
berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..

Doa yang Terijabah Desember 17, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment

Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan
Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin. – dan disaksikan beribu malaikat, semoga -

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan- Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami

“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba- Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan

Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri

Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

Saudaraku fillah, semoga ini bisa membangkitkan semangat kita tentang tujuan kita semula dan menjadikan semua friksi yang ada luluh,,

Yaa Allah, jangan kau cerai-beraikan jamaah ini…. Aamiin

Cerita dari Sekolah Penghafal Qur’an Balita Desember 16, 2008

Posted by addurra31 in 1.
2 comments

Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk., wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll). Kemudian, si guru ngajarin ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23″ dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”, isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini
dilakuk! an selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz ‘amma.

Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll. Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .

Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an). Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa”/Mujadalah:12). Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31)! , mereka langsung
minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab. Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” (As-Shaf:2).dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma.!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran. Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis
kalau nggak diajak ke ! sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).

Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini..), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa” (Al Baqarah:168). Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun. Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental ( bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris ), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak penghapal
Quran dihadiah! i pergi haji bersama orang-tuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran ( jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan dari sekolah2 lain ). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini ( kata salah seorang guru ) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu beda/ lain daripada yg lain.

Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak. Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD. Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

sumber : Milist DKM An Nahl (PT.SEIN)

Akhlaq Suami Terhadap Istri Desember 16, 2008

Posted by addurra31 in 1.
add a comment
By: agussyafii
 
 
Dalam Islam, keluarga diakui dan dihormati sebagai basis masyarakat. Nilai-nilai luhur ditanamkan untuk memelihara hubungan-hubungan yang sehat dan harmonis dalam keluarga; peraturan-peraturan akhlaq mengenai hubungan-hubungan  ini oleh karenanya menjadi sangat penting.
 
Dan pergaulilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa¢: 19).
 
Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi¢ dari Abu Sa¢id Al-Khudzri].
 
1. Dalam pandangan Islam, orang yang terbaik adalah yang terbaik dan terarah pada istrinya. Berlaku santun terhadap istri adalah bagian dari akhlaq Islam.
 
2. Karir seorang pria tidak harus dikejar dengan mengorbankan semua tujuan suci sedemikian sehingga beresiko bagi kehancuran perkawinannya. Terlepas dari seberapa keras ia harus bekerja untuk memberi nafkah bagi keluarganya, bagaimanapun sang suami tetap memiliki kewajiban ntuk meluangkan waktu bagi istrinya. Hal ini dapat dipenuhi lewat hiburan, menikmati saat-saat bercengkerama, bermain olahraga atau bentuk-bentuk lain mengisi waktu senggang yang diperkenankan oleh Islam.
 
3. Adalah menjadi bagian kebaikan seorang suami terhadap istrinya untuk memenuhi segala kebutuhannya, sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Sesungguhnya cara terbaik membelajakan uang dalam pandangan Islam adalah memberi nafkah pada keluarga. 
 
4. Meskipun melakukan shalat di dalam rumah lebih baik daripada di masjid bagi perempuan, seorang istri tidak harus dicegah pergi ke masjid jika ia ingin melakukannya.
 
5. Membicarakan masalah-masalah pribadi dengan orang lain, yaitu perihal seksual, adalah sesuatu yang sepenuhnya diharamkan dalam Islam.
 
6. Kecemburuan seorang suami terhadap istrinya ada dua macam, kecurigaan yang tak berdasar atau cemburu buta, yang harus dijauhi dan kecemburuan dimana terdapat alasan yang kuat, yang dianjurkan.
 
7. Seorang suami tidak boleh membenci istrinya, karena jika ia tidak karena jika ia tidak menyukai salah satu karakteristiknya, ia boleh jadi menyukai sifatnya yang lain. Secara insidental, diharamkan dalam Islam untuk merubah karakteristik-karakteristik sang istri yang tidak disukai suaminya, sepanjang karakteristik-karakteristik itu tidak kontradiktif dengan Islam. Seorang istri memiliki personalitasnya sendiri yang berbeda dari suaminya, dan ia tidak berhak untuk menghancurkan kepribadian istrinya dan menyesuaikannya dengan kepribadiannya. Suami harus menyadari bahwa mungkin ada elemen-elemen tertentu dari karakter istrinya yang tidak menyenangkannya, sebagaimana halnya mungkin ada aspek-aspek tertentu dari karakteristiknya yang tidak disukai olehnya.
 
8. Seorang suami tidak boleh mencaci maki istrinya atau kerabatnya.
 
9. Hubungan suami-istri memiliki sifat khusus. Ia tidak akan membuahkan hasil kecuali jika pasangan itu berusaha mengatasi hambatan-hambatan artifisial yang disebabkan oleh rasa malu dan hambatan-hambatan sosial.
 
10. Hak yang diberikan ada suami untuk memimpin keluarga, tidak boleh mengakibatkan terjadinya penyalahgunaan dan tindakan yang melampaui batas otoritasnya. Oleh karena itu, ia tidak boleh meminta istrinya untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya atau memberinya perintah yang amat banyak.
 
11. Bagi seorang suami yang menghormati dan menghargai kerabat dekat istrinya akan memperkuat hubungannya dengan istrinya.
 
12. Menghargai, merespek dan bersikap ramah terhadap teman-teman dan keluarga istrinya sebenarnya menjadi pertanda dari penghargaannya terhadap istrinya.
 
13. Sebagaimana telah disebutkan dalam pasal 12, persyaratan-persyaratan yang paling penting untuk dipenuhi dalam perkawinan adalah persyaratan-persyaratan yang terkandung dalam kontrak perkawinan. Oleh karena itu, setelah perkawinan persyaratan-persyaratan tersebut harus betul-betul diperhatikan, tidak boleh diabaikan dan dilupakan asalkan semuanya itu sesuai dengan hukum Islam.
 
14. Selalu mengingat-ingat dan menghitung-hitung kesalahan seorang istri, mencela perbuatan-perbuatannya dan seringkali menyalahkannya, akan membahayakan ikatan perkawinan. Suami dianjurkan untuk melupakan kesalahan-kesalahan istrinya dalam berbagai hal.
 
15. Sikap tidak acuh seorang suami dan ayah terhadap istri atau anak-anaknya yang melanggar ajaran-ajaran Islam adalah merupakan kesalahan besar yang tidak boleh dilakukan seorang muslim.
 
16. Bagi suami yang mencaci maki istrinya atau menyalahkan perbuatan-perbuatannya di depan orang lain, seperti anak-anak mereka, saudara-saudara dan lain-lain adalah merupakan sikap yang kasar.
 
17. Seorang suami tidak diperbolehkan menyuruh istrinya bekerja untuk menghasilkan uang. Memberinya nafkah adalah tanggung jawab suami saja.
 
18. Pada waktu pulang ke rumah, suami tidak boleh memasuki rumah tanpa lebih dulu memberi tahu keluarganya akan kedatangannya dengan membunyikan bel atau mengetuk pintu. Ia harus memberi isyarat kedatangannya dengan memuji nama Tuhan, memberi salam pada mereka, shalat dua rakaat dan baru menanyakan bagaimana keadaan mereka.
 
19. Suami harus selalu berusaha menjaga aroma mulutnya agar senantiasa menyenangkan, sehingga sang istri tidak akan merasa terganggu atau tidak menyenangkan.
 
20. Hubungan suami dengan istrinya harus ditandai oleh adanya keseimbangan antara keteguhan hati yang tidak disertai kekerasan dengan fleksibilitas tanpa kelemahan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.